Senin, 03 Juni 2013

A. HUBUNGAN INTERPERSONAL dan B. CINTA DAN PERKAWINAN


A. HUBUNGAN INTERPERSONAL
Model Pertukaran Sosial & Analisis transaksional
Teori pertukaran sosial adalah salah satu teori sosial yang mempelajari bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain , kemudian seseorang itu menentukan keseimbangan antara pengorbanan dan keuntungan yang didapatkan dari hubungan itu . Setelah seseorang menentukan keseimbangannya , ia akan menentukan jenis hubungan dan kesempatan memperbaiki hubungan / tidak sama sekali. Ketika kita berinteraksi dengan orang lain tanpa terasa ada hubungan resiprok didalamnya. Paling tidak ada 3 hal yang kita pertukarkan :
·         Ganjaran
·         Pengorbanan
·         Keuntungan

Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. AT dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.

AT dikembangkan oleh Eric Berne tahun 1960 yang ditulisnya dalam buku Games People Play. Berne adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari kelompok Humanisme. Pendekatan analisis transaksional ini berlandaskan teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan anak. Pada dasarnya teori analisis transaksional berasumsi bahwa orang-orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri, berpikir, dan memutusakan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan- perasaannya.
Dalam mengembangkan pendekatan ini Eric Berne menggunakan berbagai bentuk permainan antara orang tua, orang dewasa dan anak.
Dalam eksprerimen yang dilakukan Berne mencoba meneliti dan menjelaskan bagaimana status ego anak, orang dewasa dan orang tua, dalam interaksi satu sama lain, serta bagaimana gejala hubungan interpersonal ini muncul dalam berbagai bidang kehidupan seperti misalnya dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam sekolah, dan sebagainya.
Dari eksperimen ini Berne mengamati bahwa kehidupan sehari-hari banyak ditentukan oleh bagaimana ketiga status ego (anak, dewasa, dan orang tua) saling berinteraksi dan hubungan traksaksional antara ketiga status ego itu dapat mendorong pertumbuhan diri seseorang, tetapi juga dapat merupakan sumber-sumber gangguan psikologis. Percobaan Eric Berne ini dilakukan hamper 15 tahun dan akhirnya dia merumuskan hasil percobaannya itu dalam suatu teori yang disebut Analisis Transaksional dalam Psikoterapi yang diterbitkan pada tahun 1961. Selanjutnya tahun 1964 dia menulis pula tentang Games Pupil Play, dan tahun 1966 menerbitkan Principles of Group Treatment. Pengikut Eric Berne adalah Thomas Harris, Mc Neel J. dan R. Grinkers.


Memulai Hubungan
Pembentukan Kesan & Ketertarikan Interpersonal dalam memulai hubungan
Ellen Berscheid (Berscheid, 1985; Berscheid & Peplau 1983; Berscheid & Reis, 1998) menyatakan bahwa apa yang membuat orang-orang dari berbagai usia merasa bahagia, dari daftar jawaban yang ada, yang tertinggi atau mendekati tertinggi adalah membangun dan mengelola persahabatan dan memiliki hubungan yang positif serta hangat. Tiadanya hubungan yang bermakna dengan orang-orang lain membuat individu merasa kesepian, kurang berharga, putus asa, tak berdaya, dan keterasingan. Ahli Psikologi Sosial, Arthur Aron menyatakan bahwa motivasi utama manusia adalah ’ekspresi diri’ (self expression).
Penyebab ketertarikan, dimulai dari awal rasa suka hingga cinta berkembang dalam hubungan yang erat meliputi :
·         Aspek kedekatan
·         Kesamaan
·         Kesukaan timbal balik
·         Ktertarikan fisik dan kesukaan

Teori Ketertarikan Interpersonal
·         Social Exchange Theory
Teori ini mengacu pada pernyataan sederhana bahwa relasi berlangsung mengikuti model ekonomi ‘costs and benefits’ seperti kondisi pasar, yang telah diperluas oleh para psikolog dan sosiolog menjadi teori pertukaran sosial (social exchange theory) yang lebih kompleks.
Teori pertukaran sosial menyatakan bahwa perasaan orang tentang suatu hubungan tergantung pada persepsinya mengenai hasil positif (rewards) dan ongkos (costs) hubungan, jenis hubungan yang mereka jalani, dan kesempatan mereka untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
·         Equity Theory
Beberapa peneliti mengritik teori pertukaran sosial yang mengabaikan pentingnya keadilan atau keseimbangan dalam hubungan. Para pendukung teori ini berpendapat bahwa orang tidak sekedar berusaha mendapatkan rewards sebanyak-banyaknya dan mengurangi costs, melainkan juga peduli mengenai keseimbangan dalam hubungan, yaitu bahwa rewards dan costs yang mereka alami dan kontribusi yang mereka berikan dalam hubungan tersebut kira-kira seimbang dengan pihak lain. Teori ini menggambarkan bahwa hubungan yang seimbang adalah yang membahagiakan dan relatif stabil.

Hubungan Peran
Model Peran
terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:
·         Secara implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Tewrhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain.
·         Kedua, bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang sangat penting dalam pembelajaran.
·         Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi.
·         Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para pserta didik dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya.
Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai model pembelajaran, yakni (1) kualitas pemeranan, (2) analisis dalam diskusi, (3) pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan nyata.

Konflik
Konflik adalah adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang (masalah intern) maupun dengan orang lain (masalah ekstern) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupad perselisihan (disagreement), adanya keteganyan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing.
     Substantive conflicts merupakan perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok,pengalokasian sumber dalam suatu organisasi, distrubusi kebijaksanaan serta prosedur serta pembagaian jabatan pekerjaan. Emotional conflicts terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertantangan antar pribadi (personality clashes).
Dalam sebuah organisasi, pekerjaan individual maupun sekelompok pekerja saling berkait dengan pekerjaan pihak-pihak lain. Ketika suatu konflik muncul di dalam sebuah organisasi, penyebabnya selalu diidentifikasikan dengan komunikasi yang tidak efektif yang menjadi kambing hitam.


Adequancy peran & autentisitas dalam  hubungan peran
Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.

Intimacy dan Hubungan Pribadi
Kebutuhan intimacy merupakan suatu kebutuhan akan hubungan dengan orang lain dan merupakan kebutuhan terdalam pada diri setiap manusia untuk mengetahui seseorang secara lebih dekat, seperti merasa dihargai, diperhatikan, saling bertukar pendapat,  keinginan untuk selalu berbagi dan menerima serta perasaan saling memiliki sehingga  terjalin keterikatan yang semakin kuat dan erat.
Faktor penyebab intimacy :
·         Keluasan : seberapa banyak aktifitas yg dilakukan bersama
·         Keterbukaan : adanya saling keterbukaan diri
·         Kedalaman : saling berbagi
Proses terbentukan intimacy :
Penerimaan  diri  ­  Saling  berinteraksi  ­  Memberi  respon  atau 
tanggapan – Perhatian ­ Rasa percaya  ­ Kasih sayang ­ Mempunyai 
minat yang sama ­ Berhubungan seksual

Intimacy dan Pertumbuhan
Apapun alasan untuk berpacaran, untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita.
Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban. Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat disebabkan karena (1) kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita secara utuh; (2) kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan memasuki pernikahan; (3) kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang dapat dipercaya untuk memegang rahasia; (4) kita dibentuk menjadi orang yang berkepribadian tertutup; (5) kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus . Dalam hal inilah keutamaan cinta dibutuhkan.

B. CINTA DAN PERKAWINAN

Bagaimana memilih pasangan
Memilih pasangan atau jodoh bukan hal yang sulit jika tahu rumusnya dan akan menjadi sulit jika tidak mengetahui rumusnya. Melakukan istikharoh bagi yang muslim perlu dilakukan agar dipilihkan yang terbaik oleh yuhan. Tapi apakah kita tidak bisa menetapkan pasangan kita sendiri ? mungkin bisa tetapi tidak bisa akurat seperti yang sudah terlebih dahulu pengalaman.

Pertama Tuhan adalah penguasa dan pemilik serta penentu jodoh kita. Hanya dia yang bisa menjadi pemilih yang sempurna dan paling tahu tentang calon pasangan kita. Maka kedua adalah orang-orang yang dekat dengan tuhan yang bisa menentukan pasangan yang baik untuk dipilih. ketiga dimiliki oleh orang tua kita karena faktore kasih sayang dan kesungguhannya kepada kita sehingga sangat serius untuk memilihkan kita. Bagaimana dengan diri sendiri ? kadang tidak bisa diandalkan karena kurangnya pengalaman, atau memilih karena nafsu,emosi dan kepentingan lain bukan kepentingan abadi.

Beanikah kita menyerahkan pilihan kita kepada orang yang lebih tahu luar dan dalam serta pengalaman hidup yang cukup ? berusaha menjadikan kita pantas mendapatkan pasangan yang memang cocok dengan pengertian orang baik akan bertemu orang baik itu cocok dan yang jelek hatinya akan bertemu dengan yang jelek juga. Serahkan kepada tuhan dan berusaha taat dan memantaskan diri sendiri. Menjadi orang yang dekat kepada tuhan akan menjadikan diri kita beruntung
1. Visualisasikan hubungan ideal
Bermimpilah hal-hal yang sangat Anda inginkan, lalu visualisasikanlah di dalam mata batin Anda.
Pusatkan pikiran dengan memejamkan mata 5-10 menit, lalu rasakan kedamaian yang mendalam dari bayangan hubungan percintaan yang Anda impikan.
2. Tuliskan keinginan
Segera tuliskan apa yang Anda lihat dalam pikiran seolah-olah hal tersebut terjadi saat ini, atau sudah terjadi. Ini adalah cara terkuat yang dapat menentukan tindakan yang akan diambil untuk merealisasikan keinginan Anda.
3. Tuliskan tipe pria idaman
Pada baris pertama selembar kertas tulislah kata ‘saya’, lalu tulis tipe orang yang Anda inginkan jadi pasangan secara rinci. Jadilah aktif dan jelas dengan deskripsi Anda.
Contoh: Aku menikmati hubungan cinta dengan seorang pria yang baik hati, lembut, dan penuh kasih. Atau, aku cinta menghabiskan waktu dengan seorang pria yang suka bersenang-senang, dan juga suka memasak bersama di rumah.
4. Tuliskan semua keinginan dalam percintaan
Lanjutkan kalimat tersebut sampai Anda merasa semua yang Anda inginkan dalam hubungan percintaan. Biarkan mengalir tapi jangan terlalu memilih. Ingatlah bahwa Anda ingin mencari pasangan sejati adalah ide konseptual yang mungkin tidak ada.
5. Tegaskan secara positif
Pastikan setiap kalimat Anda utarakan dengan menggunakan kalimat positif. Tahan diri Anda untuk menggunakan deskripsi negatif seperti kata ‘tidak’. Ketika kita menjelaskan secara negatif, secara tidak sadar kita telah membiarkan pikiran negatif merasuki jiwa.
Contoh: “Saya tidak ingin berkelahi dengan orang yang saya cintai,” Anda bisa menggantinya dengan kalimat, “saya berkomunikasi dengan orang yang saya cintai dengan kedewasaan, keterbukaan, dan kesenangan.
6. Ketahui apa yang tidak dapat Anda toleransi.
Gunakan pengalaman masa lalu Anda untuk menjelaskan apa yang tidak ingin Anda hadapi di hubungan selanjutnya.
Contohnya, jika Anda tidak ingin memiliki hubungan dengan pria yang jauh dari Anda atau pria yang sudah memiliki anak, masukan adegan tersebut pada sesuatu yang tidak dapat Anda tolerir. Pastikan selalu menggunakan sudut pandang positif seperti seseorang yang berada di area yang sama, atau seseorang yang masih single.
7. Sadari nilai-nilai Anda
Ketahuilah apa saja nilai kehidupan yang paling penting bagi Anda? Pastikan mereka termasuk dalam daftar Anda, dan tetapkan hal tersebut sebagai nilai yang juga harus dipercaya pria idaman Anda. Sebuah hubungan yang sukses harus dalam perjanjian atau paling tidak menghormati nilai-nilai masing-masing.
8. Periksa kembali daftar
Periksa kembali tulisan Anda untuk melihat apakah Anda melupakan sesuatu yang penting bagi Anda. Pastikan tulisan ini merupakan gambaran mimpi yang lebih besar dibandingkan terjebak dalam rincian yang terlalu jelas.
Contohnya, jika Anda membuat tulisan seperti, “Dia harus berpendapatan lebih dari 1 miliar per tahun,” sebaiknya gunakan kalimat, “Dia dapat membuat hidup saya dan keluarga dalam keadaan yang baik.”
9. Bacalah tulisan tiap hari
Baca dengan suara yang lantang selama satu minggu untuk menanamkannya ke dalam alam bawah sadar Anda. Tempatkan tulisan tersebut di tempat yang mudah terlihat sehingga Anda mudah untuk mengingat apa yang ada di dalamnya.
10. Selalu terbuka
Siapkan diri menyambut hubungan baru Anda untuk mendapatkan kejutan-kejutan dan tidak persis sama dengan apa yang Anda tuliskan. Namun, jika Anda bertemu dengan seseorang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang Anda inginkan, jangan berani berkompromi.

Seluk beluk hubungan dalam perkawinan
Azas Perkawinan Menurut UU No.1 Tahun 1974
1.Tujuan Perkawinan adalah membentuk Keluarga yang bahagia dan kekal.
2. Suatu perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing – masing Agama dan Kepercayaannya, perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang – undangan yang 
berlaku. 
3. Azas Monogami adalah suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri, seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Seorang suami dapat beristeri lebih dari satu apabila diizinkan Pengadilan dengan persyaratan :
1. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya.
2. Isteri cacat badan atau penyakit yang tidak dapat sembuh
3. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
4. Calon Suami isteri harus telah matang Jiwa dan Raganya untuk melangsungkan perkawinan agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir dengan perceraian.
5. UU ini mempersempit terjadinya perceraian kecuali harus ada alasan – alasan tertentu serta harus dilakukan didepan sidang Pengadilan.
6. Hak dan Kedudukan Isteri adalah seimbang dengan Hak dan Kewajiban Suami baik dalam kehidupan berumah tangga maupun dalam pergaulan Masyarakat.

Larangan Perkawinan Menurut Hukum Islam ( Asas Selektivitas )
1.Perkawinan Karena Perbedaan Agama
2.Perkawinan Karena Hubungan darah yang masih terlampau dekat
3.Perkawinan karena Hubungan Susunan
4.Perkawinan karena Hubungan Semenda
5.Perkawinan Poliandri
6.Perkawinan terhadap Wanita yang di Li’an
7.Perkawinan terhadap Wanita / Pria Pezina
8.Perkawinan terhadap Istri yang ditalak tiga
9.Perkawinan Pria yang telah beristri empat.
10. Perkawinan Pria/wanita pada waktu Ihram Haji/Umrah

Rukun dan syarat nikah

Rukun Nikah
1.Calon mempelai pria dan wanita
2. Wali dari calon mempelai Wanita
3. Dua orang saksi ( Laki – laki )
4. Ijab
5. Kabul

Syarat Nikah
Calon Pengantin Pria
1. Beragama Islam
2. Jelas Pria ( bukan banci )
3. Tidak dipaksa
4. Tidak beristri empat orang
5. Bukan mahran calon istri
6. Tidak mempunyai istri yang haram dimadu dengan calon istri
7. Mengetahui calon istri tidak haram dinikahinya
8. Tidak sedang dalam Ihram Haji atau Umrah

Calon Pengantin wanita
1. Beragama Islam
2. Terang Wanita
3. Telah memberi izin kepada walinya untuk menikahkannya
4. Tidak bersuami dan tidak dalam Iddah
5. Bukan mahram calon Suami
6. Belum pernah di Li’an
7. Terang Orangnya
8. Tidak sedang dalam Ihram Haji atau Umrah

Syarat Wali
1. Beragama Islam
2. Baligh
3. Berakal
4. Tidak dipaksa
5. Terang Lelaki
6. Adil ( bukan fasik )
7. Tidak sedang Ihram Haji atau Umrah
8. Tidak rusak pikirannya
9. Tidak dicabut Haknya oleh Pemerintah

Syarat Saksi
1. Beragama Islam
2. Laki – laki
3. Baligh
4. Berakal
5. Adil
6. Mendengar ( tidak tuli )
7. Melihat ( tidak buta )
8. Bisa bicara ( tidak bisu )
9. Tidak pelupa
10. Menjaga Harga Diri
11. Mengerti maksud Ijab dan Kabul
12. Tidak merangkap menjadi Wali

Prinsip Pergaulan Suami Istri :
Suami Sebagai Kepala Keluarga dan Istri Sebagai Ibu Rumah

Tangga
Pergaulan yang Makruf serta saling menjaga rahasia masing – masing
Pergaulan yang Sakinah
Pergaulan yang Mawaddah ( rasa cinta ) terutama di masa Muda
Pergaulan yang Rahmah (rasa santun ) terutama di masa Tua

Kedudukan Suami
1. Suami adalah Kepala Keluarga dan Istri Ibu Rumah Tangga
2. Hak dan Kedudukan Istri adalah seimbang dengan Hak dan Kewajiban Suami dalam kehidupan Rumah Tangga dan Masyarakat
3. Masing – masing pihak berhak melakukan perbuatan Hukum

Kewajiban Suami
Suami adalah Pembimbing terhadap Istri dan Rumah Tangganya.
Suami wajib melindungi Istrinya dan memberikan keperluan hidup sesuai kemampuannya.
Suami wajib memberi pendidikan Agama dan Ilmu lain kepada Istrinya.
Sesuai kemampuannya suami menanggung :
1. Nafkah, Kiswah, Tempat Kediaman.
2. Biaya Rumah Tangga, Perawatan dan Pengobatan bagi Istri dan Anak.
3. Biaya Pendidikan bagi anak.

Kewajiban Istri
Berbakti lahir dan batin kepada Suami dalam batas yang dibenarkan oleh Islam.
istri mengatur Keperluan Rumah Tangga dengan sebaik – baiknya.
Menjaga Kehormatan Diri dan Rumah Tangga
Menjadi Pendamping Suami yang Setia

Tentang Pemeliharaan Anak
Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa 21 tahun, sepanjang anak tersebut tidak memiliki cacat fisik atau mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan, Orang Tuanya mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan

Hukum di dalam dan di luar Pengadilan.
Pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang mampu menunaikan kewajiban tersebut apabila kedua orang tuanya tidak mampu.

ETIKA DALAM PERKAWINAN

Bersikap Lemah Lembut kepada Istri, lemah Lembut dalam Bersenggama, melakukan sholat sunat sebelum bersenggama disunatkan suami meletakkan tangannya di atas kepala Istrinya. Membaca Do’a sebelum bersenggama, memilih waktu yang baik untuk bersenggama, dianjurkan berwudlu’ ketika ingin mengulangi senggama.

Memenuhi Tanggung Jawab Suami Istri

Suami dalam membahagiakan Istri, Nafkah kepada Istri, Istri dalam Kebaikan, Keluarga Suami Istri, Saling Taat dan Setia, Kehormatan dan Rahasia

10 HARAPAN SUAMI ISTRI

1. Suami mempunyai harapan kepada istri untuk memberikan kasih sayang dan kemanjaan, sebaliknya istri mengharapkan senantiasa membisikkan perkataan kasih sayang ditelinganya sepanjang waktu.
2. Suami berharap istri memahami prinsip, tujuan, pegangan, dan pendirian hidupnya. Sedang istri berharap kasih sayang Suami dan penghargaan atas pelayanan, dan penampilan Istri.
3. Suami berharap istri memberikan penghormatan yang dan sebaliknya istri mengharap suami memberikan sentuhan dan pelukan yang ikhlas.
4. Suami menghnarapkan istri tidak menyinggung hati dan permintaan yang berlebihan, mengharapkan Teguran yang hikmah atas kesalahan
5. Suami berharap istri percaya secara penuh kepadanya istri berharap suami menghormati, penuh perhatian,
lemah lembut dan tidak mudah emosi.
6. Suami berharap Istri dapat memahami prilakunya dan Istri, suami menjadi sahabat setia setiap waktu dan dimanapun
7. Suami mengharapkan Dukungan dan Motivasi dari sebaliknya Istri berharap suami dapat membimbing mereka agar di dunia dan akhirat.
8. Suami berharap istri senatiasa menjalankan perintah Allah SWT tanpa disuruh/ diperingatkan, Istri berharap suami dapat dan melayani keluarga istri seperti keluarganyasendiri.
9. Suami berharap istri dapat mendidik dan menyayangi anak – anak sedangkan istri mengharapkan suaminya memahami dan melayani kehendak Istri.
10. Suami berharap istri selalu mendoakannya agar bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat dan begitu juga sebaliknya harapan istri.
Penyesuaian dan pertumbuhan dalam perkawinan
Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.

Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.

Perceraian dan Pernikahan Kembali

Pernikahan bukanlah akhir kisah indah bak dongeng cinderella, namun dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Apa yang akan mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai? Ada banyak faktor. Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan kurang dari menikah lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor seperti faktor pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.

Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.

Jika ingin sukses dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu, jangan biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati. Menikah Kembali setelah perceraian bisa menjadi pengalaman menarik. tinggalkan masa lalu dan berharap untuk masa depan yang lebih baik.


Alternatif selain Pernikahan

Paradigma terhadap lajang cenderung memojokkan. pertanyaannya kapan menikah?? Ganteng-ganteng kok ga menikah? Apakah Melajang Sebuah Pilihan??
Ada banyak alasan untuk tetap melajang. Perkembangan jaman, perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup melajang. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang.
Persepsi masyarakat terhadap orang yang melajang, seiring dengan perkembangan jaman, juga berubah. Seringkali kita melihat seorang yang masih hidup melajang, mempunyai wajah dan penampilan di atas rata-rata dan supel. Baik pelajang pria maupun wanita, mereka pun pandai bergaul, memiliki posisi pekerjaan yang cukup menjanjikan, tingkat pendidikan yang baik.
Alasan yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah tidak ingin kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi, tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan. Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu.
Banyak perusahaan lebih memilih karyawan yang masih berstatus lajang untuk mengisi posisi tertentu. Pertimbangannya, para pelajang lebih dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaan. Hal ini juga menjadi alasan seorang tetap hidup melajang.
Banyak pria menempatkan pernikahan pada prioritas kesekian, sedangkan karir lebih mendapat prioritas utama. Dengan hidup melayang, mereka bisa lebih konsentrasi dan fokus pada pekerjaan, sehingga promosi dan kenaikan jabatan lebih mudah diperoleh. Biasanya, pelajang lebih bersedia untuk bekerja lembur dan tugas ke luar kota dalam jangka waktu yang lama, dibandingkan karyawan yang telah menikah.
Kemapanan dan kondisi ekonomi pun menjadi alasan tetap melajang. Pria sering kali merasa kurang percaya diri jika belum memiliki kendaraan atau rumah pribadi. Sementara, perempuan lajang merasa senang jika sebelum menikah bisa hidup mandiri dan memiliki karir bagus. Mereka bangga memiliki sesuatu yang dihasilkan dari hasil keringat sendiri. Selain itu, ada kepuasaan tersendiri.
Banyak yang mengatakan seorang masih melajang karena terlalu banyak memilih atau ingin mendapat pasangan yang sempurna sehingga sulit mendapatkan jodoh. Pernikahan adalah untuk seumur hidup. Rasanya tidak mungkin menghabiskan masa hidup kita dengan seorang yang tidak kita cintai. Lebih baik terlambat menikah daripada menikah akhirnya berakhir dengan perceraian.
Lajang pun lebih mempunyai waktu untuk dirinya sendiri, berpenampilan lebih baik, dan dapat melakukan kegiatan hobi tanpa ada keberatan dari pasangan. Mereka bebas untuk melakukan acara berwisata ke tempat yang disukai dengan sesama pelajang.
Pelajang biasanya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya jika dibandingkan dengan teman-teman yang berusia sama dengannya, tetapi telah menikah.
Ketika diundang ke pernikahan kerabat, pelajang biasanya menghindarinya. Kalaupun datang, mereka berusaha untuk berkumpul dengan para sepupu yang masih melajang dan sesama pelajang. Hal ini untuk menghindari pertanyaan singkat dan sederhana dari kerabat yang seusia dengan orangtua mereka. Kapan menikah? Kapan menyusul? Sudah ada calon? Pertanyaan tersebut, sekalipun sederhana, tetapi sulit untuk dijawab oleh pelajang.
Seringkali, pelajang juga menjadi sasaran keluarga untuk dicarikan jodoh, terutama bila saudara sepupu yang seumuran telah menikah atau adik sudah mempunyai pacar. Sementara orangtua menginginkan agar adik tidak melangkahi kakak, agar kakak tidak berat jodoh.
Tidak dapat dipungkuri, sebenarnya lajang juga mempunyai keinginan untuk menikah, memiliki pasangan untuk berbagi dalam suka dan duka. Apalagi melihat teman yang seumuran yang telah memiliki sepasang anak yang lucu dan menggemaskan. Bisa jadi, mereka belum menemukan pasangan atau jodoh yang cocok di hati. Itulah alasan mereka untuk tetap menjalani hidup sebagai lajang.
Melajang adalah sebuah sebuah pilihan dan bukan terpaksa, selama pelajang menikmati hidupnya. Pelajang akan mengakhiri masa lajangnya dengan senang hati jika telah menemukan seorang yang telah cocok di hati.
Kehidupan melajang bukanlah sebuah hal yang perlu ditakuti. Bukan pula sebuah pemberontakan terhadap sebuah ikatan pernikahan. Hanya, mereka belum ketemu jodoh yang cocok untuk berbagi dalam suka dan duka serta menghabiskan waktu bersama di hari tua.

Arus modernisasi dan gender membuat para perempuan Indonesia dapat menempati posisi yang setara bahkan melebihi pria. Bahkan sekarang banyak perempuan yang mempunyai penghasilan lebih besar dari pria. Ditambah dengan konsep pilihan melajang, terutama kota-kota besar, mendorong perempuan Indonesia untuk hidup sendiri.

SUMBER :
·         nilam.staff.gunadarma.ac.id/.../BAB+10.+DAYA+...
·         http://mimbarbinaalumni.blogspot.com/2012/04/seri-love-2-growing-in-
-         http://id.wikipedia.org/wiki/Perkawinan
-         http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta
-         Adhim, Mohammad Fauzil (2002) Indahnya Perkawinan Dini Jakarta: Gema Insani Press (GIP)


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar